Entri Populer

Jumat, 23 Maret 2012

Manfaat Sedekah Tak Pernah Berhenti.......

Ketika kita mulai sombong hitung-hitungan dengan Tuhan…

Banda Aceh, 2010
Malam itu selesai sudah mentoring yang aku lakukan untuk Entrepreneur University di dua kota, Medan dan Banda Aceh. Hari sudah larut malam, peserta kelas itu ternyata bukan hanya asli dari Nangroe Aceh, banyak juga orang Jawa.. kami sempatkan untuk foto-foto bersama, setelah rentetan pertanyaan kuselesaikan semua… Aku kembali ke kamar hotel, badan penat penuh keringat, 3 jam lebih mulutku berbusa-busa untuk mentoring ini.
Ketika aku sedang merebahkan badan sebuah SMS masuk. “mas Saptu, maaf ya untuk fee mentor dan biaya tiket pesawat belum bisa kami transfer malam ini.. secepatnya kami kabari.. trimakasih” Aaaah.. ketika niat sharing ilmu dihadapkan dengan profesionalisme, kadang kala kita pun harus tetap “mengalah” pada kenyataan yang mengecewakan. Tirai kamar hotel kubuka, lampu kerlap-kerlip di jalan depan hotel.. mataku terlalu lelah untuk menikmati Banda Aceh malam itu…

aceh

Enam bulan kemudian….
Sebuah SMS masuk, “Mas Saptu, sudah saya transfer 7 juta untuk fee mentoring di Medan dan Banda Aceh, maaf ya mas gara-gara ada masalah dgn pengelola lokal yang kemarin berantakan jadi pembayaran banyak tertunda.. trims mas!”
SMS dari panitia itu untuk memberitahu bayaran profesional atas waktuku, ilmuku, keringatku yang sudah kupenuhi 6 bulan lalu. Aku bahkan nyaris lupa hingga tidak menagihnya.. ya Alhamdulillah, paling tidak panitia punya itikat baik bahwa kewajiban profesional harus tetap diselesaikan, daripada jadi hutangnya yang dibawa hingga mati, malah bisa bikin penghalang di akhirat nanti… Ngeri..!
“Cuuuk… Ayo ikut aku!” Teriakku spontan pada Pincuk yang lagi lewat di depanku. Namanya Wahyu Priyono, panggilannya di kantor Pipin atau Pincuk. asli Blawong Mbantul.. dia salah satu managerku, cuma lulusan SMA tapi inisiatif dalam bekerja tidak diragukan. Sudah 3 tahun jadi crew di Kedai Digital, dulu di bagian produksi, kinerjanya yang bagus akhirnya membuatku percaya dia jadi Manager di salah satu cabang Kedai Digital di Jogja.
“Kemana mas? Aku masih kerja jee” tanya pincuk.
“Aah, pasrahke saja pada anak buahmu, ayo ikut aku!” Kataku
“Iya.. iya mas..”
Hehehe, harus manut sama bossnya kan, kerjaan kalo gak urgent bisa belakangan..
“Kita mampir ke ATM dulu cuk!” Ajakku
Mobilku meluncur ke jalan Imogiri, pincuk duduk di sampingku sambil megang duit 7 juta. “Duit sebanyak ini buat apa jee mas?” Tanya Pincuk “Itu duit harusnya buat aku Cuk, sopo sing gak mau duit tho! Aku juga lagi butuh duit buat nambah-nambah bayar cicilan kredit kantor, Itu hasil keringatku ngisi seminar dulu di Medan dan Aceh, tapi setelah 6 bulan panitianya baru tanggungjawab, aku dulu pernah nyeplos, mungkin ini memang bukan rejekiku, kok sampai lama sekali cairnya.. sudah kuniati untuk dibagi-bagi saja di Panti Asuhan, Insya Allah lebih bermanfaat buat mereka…”
“Sebanyak ini mas??” Tanya Pincuk mendelik.. “Iyolaaah.. mosok sebanyak bibirmu..!” Jawabku asal .Hubunganku dengan crew Kedai Digital memang dekat, aku posisikan mereka sebagai kawan, sebagai rekan kerja, bukan sebagai boss yang kejam kepada bawahan.. gak ada itu dalam kamusku.. “Ayo cuk, hari ini kamu tak bagehi pahala.. kita cari 7 panti asuhan.. masing-masing kita kasih 1 juta” lanjutku “Siaaaap mas!” Jawabnya bersemangat.. Naaah..akhirnya kebawa juga emosi positifnya… Hehehe
Hari itu niat baik terlaksana, hujan deras di sore hari menemani ketika kami selesai di panti asuhan yang terakhir..
——————
Yusur Mansur sang ustadz yang paling rajin koar-koar soal sedekah itu pernah mengajari ilmu Matematika Sedekah.. Pagi itu aku mendengarnya di tivi, “Gini Ji..kalo itungan pinter 10-1=9 betul enggak, tapi kalo urusan sedekah beda ji, 10-1=19! Darimaneee itungannye? Karena yang 1 yang kite sedekahin itu tuh bakal diganti Allah 10 kali lipat!! Allah itu Maha Kaya! Gak bakal bangkrut hanya bikin rejeki kite balik jadi berlipat-lipat! Nah mulai sekarang mulai pada deh rajin sedekah yee…” Teh tawar anget buatan ibuku menemaniku lihat tivi pagi itu… Aku manggut manggut saja tanda setuju..
————-
Di opening buku 7 Kejaiban Rejeki dan Percepatan Rejeki tulisan kawan saya Ippho Santosa ada buanyak testimoni mereka yang mengalami keajaiban sedekah.. Dari yang dikembalikan 10 kali lipat hingga ribuan kali lipat, dari yang kembali dalam hitungan jam ato yang berbalik dalam hitungan bulan. Aku pun sering mengalami keajaiban itu, walopun tak satupun yang kuceritakan ke Mas Ippho biar dikutip di bukunya.. Hehehe
Sekali waktu di hari Jumat, aku diminta sharing sederhana di kelas Mata kuliah wirausaha di kampus Universitas Kristen Duta Wacana Jogja, sharing biasa 1 jam, aku anggap sharing bagi ilmu gratisan. Ketika pulang bu dosen menyelipkan amplop ke tanganku, “buat beli bensin mas”katanya. Ketika aku berangkat ke Masjid untuk jumatan ada sesuatu yang mengganjal di saku belakangku, ah ternyata amplop bensin tadi. Sambil jalan kubuka amplop itu, isinya uang 200 ribu, mungkin ini memang sudah jatah tabungan untuk masjid itu. Sejenak kemudian uang itu sudah masuk ke kotak infak, amplopnya berpindah ke tempat sampah.. Sholat jumat di mulai, keajaiban apa nanti yang bakal kutemui yaa..?
Gak lama memang, sore harinya aku sudah dapat SMS, seorang mitra baru di Kedai Digital sudah transfer 20juta, dan siap training minggu depan. gak nunggu lama juga kali ini.. Wusss langsung balik lagi..
Bagi yang baru pertama melakukan ilmu sedekah pasti momen seperti ini yang ditunggu, aaah..aku sudah “nyogok” Gusti Allah apa yaa yang bakal kuterima… padahal Beliau gak butuh uang sedekah kita, justru kitalah yang butuh tabungan untuk di kuburan itu..
Hari berlalu…
Sejak uang 7 juta itu aku bagi ke tujuh panti asuhan, belum juga ada tanda-tanda ada keajaiban. Di rekeningku belum masuk juga transferan 70 juta atau 700 juta, padahal Allahpun sudah berjanji, bagi hambanya yang bersedah bakal diganti dengan rejeki yang berlipat-lipat, seperti yang aku baca di Al-Baqarah 261 waktu itu… aah akupun tidak terlalu merisaukannya, mungkin karena sudah gak pantas pula aku menghitung-hitungnya, mengeja angka demi angka seperti anak TK yang baru belajar membaca. Hanya saja harus ada jawaban jika ada orang yang sudah bersedekah, dia menunggu dengan penuh kecemasan yang ditunggu tidak kunjung datang… syetan akan bermain di hatinya, agar otaknya setuju kalo Yusuf Mansur pembohong, dan Gusti Allah sedang ingkar janji….
——————————————-
Jakarta, April 2011
Mobil itu harganya 1,3 Milyar… mulussss… gagah dan mentereng… Hummer produksi langsung dari amerika, bukan buatan Tangerang atau Bekasi, walopun mobil mahal tapi kalo diisi over penumpang tetap aja umpek-umpekan kaya ikan pindang..!!
Pagi itu Mas Mono menjemputku di hotel Aryaduta, siang aku harus kembali ke Jogja, dia mengajakku untuk ikut seminar Mas Ippho di Serpong. Ketika di Lobby rombongan anak-anak Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang sedang ada acara training langsung rebutan ikut. Akhirnya mobil untuk 5 penumpang itu diisi 7 orang, ada Agung Nugroho Simply Fresh, Hafiz Dawet Cah Mbanjar, Hamka Bornis Studio, dan Firman Tela yang badannya menuh-menuhin tempat! Brrrrr…

mobil Hummer
“kalian tau enggak, mobil Hummer inipun aku dapetin tanpa modal! Aku gak keluar duit seperserpun… semua Allah yang ngatur, hehe…” cerita mas Mono ketika kami sudah melaju menuju Serpong.
“mosok mas?! Gimana caranya itu… gimana ilmunya!” tanya Hamka penasaran
“jadi begini…” kata Mas Mono, ceritanya runtut tetang kisah datangnya mobil mewah itu, kami dengarkan sambil manggut-manggut.. kalo kamu mau cerita detailnya besok kalo kamu ketemu Pengusaha Ayam Bakar itu bisa kamu introgasi sendiri.
Agung yang duduk disebelahku mulai meringis karena harus memangku si Hafiz.. aaah mobil mahal tapi kayak naik angkot juga kalo begini!
“Sedekah itu penuh misteri, kadang kita gak bisa mengukurnya dengan nilai uang. Sedekah itu juga bisa menjauhkan dari bencana, atau meringankan bencana yang memang sudah tercatat untuk kita. Minggu kemarin aku baru saja sedekah dengan nominal yang cukup besar, tapi ketika aku di daerah Cicalengka Jawa Barat mobilku disrempet motor, hehe.. aku ambil hikmahnya, mungkin hari ini memang sudah ditakdirkan Allah kalo aku harus kecelakaan di daerah itu, tapi karena keajaiban sedekahlah mungkin Allah mengganti bis atau tronton yang harusnya menghajar mobilku diganti dengan motor bebek, itupun motornya yang terpelanting masuk selokan, mobilku hanya spionnya yang pecah… Alhamdulillah..” Kata Mas Mono melanjutkan. Kami semua manggut-manggut, plus aku tambah meringis karena bokongnya Hamka membuat paha kananku yang didudukinya semakin puegeeel…!!

Kalo urusan sedekah akupun masih belajar pada Mas Mono, dia pejuang sejati… dari seorang office boy di Jakarta, jadi pedagang kaki lima, sekarang outlet Ayam Bakar Mas Mono tersebar di penjuru Jakarta. Angka omzet 80 juta-100juta sehari hal biasa buat dia. Sekarang Mas Mono jadi tangan kanan Yusuf Mansur yang dulu juga terkesan ketika dapat musibah uang jamaah di maling, Mas Mono lah yang berdiri paling depan menggati uang yang hilang itu..
Sekali waktu dia Chat di BBM ku, “Sap.. hari ini aku sedekah Brutal! Omzetku hari ini dari semua warungku akan kusedekahkan semua! Full”
“piro mas..?” tanyaku
“Sekitar 80 juta Sap…”
Kamu tentu bisa mbayangkan bentuk wajahku, lebih sadis dan meringis dari wajah si Pincuk tentunya, seperti orang yang ngeleg kodok hidup-hidup…
“hari ini juga Mas Jodi juga akan sedekah seluruh profit dan warung Steak dan Shake nya, juga dari semua Warung Bebek pak Slamet yang di semua cabang…pokoknya hari ini kita Brutal sedekah Sap” Lanjut Mas Mono
Aku klakep…mingkem.. uang 7 jutaku gak ada apa-apanya dibanding dua pengusaha kuliner paling gila itu. Hari itu tampak sekali mereka terbang melejit naik buroq.. aku masih nyaman naik motor butut… hadeeeh….!!
———————————–
Sebuah kisah di Jaman Nabi, seseorang yang besok akan mati digigit ular, dan Nabi diberitahu malaikat akan hal itu. Namun ternyata esoknya orangnya tetap hidup bahkan tetap bekerja sampai tua. Nabi diberitahu kalo orang itu menyedekahkan sebagian hartanya sehingga Allah memanjangkan umurnya, seolah-olah takdirpun bisa kita nego dengan sedekah.
Aku membaca sebuah email di Milis, tentang Rockeffeler orang kaya di Amerika yang tidak bahagia dan sulit tidur. Dokter pun memvonis bahwa hidupnya tidak akan lama. Lalu Rockeffeler mengubah hidupnya, untuk menolong kaum papa dan orang-orang miskin. Lalu apa yang terjadi? Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan dokter. Rockeffeler hidup sampai umur 98 tahun sebagai ahli filantropi dan dermawan yang terkenal.
Seorang kawan pernah bercerita padaku, Ayah sahabatnya divonis dokter mengalami penyumbatan jantung dan harus dipasang ring untuk mengatasi penyakitnya itu. Orang itu memilih minta diantar keliling Jogja sambil membagi-bagikan harta yang dia punya. Dalam hitungan hari penyakitnya sembuh dengan sendirinya, dokter tak bisa menjelaskan proses penyembuhan itu dari sisi medis dan ilmiah.
Ustad Arifin Ilham di tivi juga pernah mengingatkan, 3 keutamaan Sedekah bagi orang yang melakukannya: Memanjangkan Umur, Menolak Bala, dan melapangkan rejeki. Jika Allah ridho semua bakal mudah datang buat kita.
Aku semakin paham, pada level yang lebih tinggi matematika sedekah 10-1=19 tidak harus selalu kita hitung setiap uang yang kita sedekahkan. Aku yakin Yusuf Mansur mengajarkan rumus hitungan itu untuk mancing para Pesedekah Pemula agar mudah percaya bahwa Allah Superrrr Duperrrr Maha Kaya…
—————————————
Gili Trawangan, Juli 2011
Pulau ini benar-benar surga, panti landai berpasir putih dengan ombak yang nyaris tenang di atas hamparan langit biru yang terbentang. Gili Trawangan adalah permata berharga di Lombok. Ribuan bule yang datang dari penjuru dunia seolah memantapkan julukan sebagai Bali mini di pulau Lombok.. Sehabis acara Entrepreneur Summit di Bali kemarin, kami rombongan WMM langsung meluncur ke Gili untuk sejenak rileks menjelang liburan berakhir sebelum Ramadhan. Hendy Babarafi, Denni Villa Batam, Hafiz Rijal Dawet Medan, Jeffry Bonita, dan Doni Tirtana masuk ke rombongan ini.
Kami sudah diatas kapal yang akan mengantar kami untuk diving. Freddy bule asal Prancis yang akan jadi pemandu kami hari ini mulai menjelaskan ilmu diving yang harus kami patuhi. Bukan hal yang baru karena Januari lalu kami sudah pernah menyelam ke Bunaken Manado. Namun unsur Safety yang tinggi harus selalu dipatuhi, karena di bawah laut sana semua bisa terjadi. Di Gili Trawangan kami harus membayar 650 ribu/orang untuk diving hari itu.
Aku dan istriku dapat jatah gelombang dua, sementara yang lain turun ke bawah aku dan beberapa kawan snorkling dulu di sekitar kapal. Ketika waktunya aku menyelam, aku harus diberi pemberat tambahan agar mudah turun kebawah, ukuran badanku sudah XXL hehe.. Kami berpisah di 4 lokasi, aku dituntun oleh Freddy disebelah timur, di bawahku langsung ada jeram sedalam 12-20 meter. Aku harus menyesuaikan dengan alat selam ini, kemampuanku belum secanggih Denni dan Hafiz.

kisah sedekah/penyu

Freddy menarikku untuk turun ke bawah, 15 menit pertama semua baik-baik saja, tombol udara dipundakku ditekan Freddy sehingga badanku langsung turun kebawah. Di Kedalaman 8 meter hanya berjarak 1 meter dari kakiku seekor penyu raksasa sedang keluar sarang, badannya besar dan lebar menggapai gapai sisi tebing itu. Kucoba mendekati, entah mengapa tiba-tiba kedua telingaku terasa sakit sekali, tekanan air yang semakin tinggi membuat gendang telingaku seperti ditusuk dengan lidi. Segera kutekan hidungku sambil kuhembuskan nafas kuat-kuat untuk mengurangi tekanan air, tapi ada yang gak beres… tiba-tiba air masuk terhisap ke dalam hidungku, bagian karet kacamata selam yang gak benar posisinya. Aku gelagepan, air laut masuk ke hidungku dengan deras, kalut karena aku ada 8 meter dibawah air, seketika kutekan kuat-kuat tombol udara dipundak, Freddy yang ada dibawahku tiba-tiba dia menarik kakiku, mungkin maksudnya akan membenarkan posisi ventilatorku. Terlambat! aku keburu kalut, aku susah bernafas.. dadaku seperti terbakar, aku tidak bisa bernafas… saatnya untuk mati!! Aku harus keluar…!! kutekan keras tombol itu, badanku langsung seperti balon yang melayang keatas, kilatan cahaya matahari yang memantul di air terlihat jelas ketika aku meluncur tersedak-sedak menuju permukaan.

“HHOOOOEEKKK!!” aku teriak dan muntah ketika badanku menyembul ke permukaan. Freddy yang muncul di sampingku terus teriak-teriak.. “what are you doing??!! Its very very dangerous!!” Aku tau bahayanya jika langsung keluar air dari menyelam, perbedaan tekanan yang sangat besar membuat tubuh manusia harus beradaptasi. Tapi bagaimana lagi.. badanku langsung lemas diangkat naik ke kapal… Fiiuh… aku masih dapat jatah hidup hari ini! Istriku yang naik ke kapal langsung memelukku, “Dari tadi perasaanku gak enak…mungkin ini sebabnya!” katanya. Dan aku muntah lagi…
Air laut itu membuat perutku seperti akan meledak…
Setelah tenang, kawan-kawan bergantian ngeledek aku, “untuuung Sap… jadi Mbak Sita gak harus cari suami lagi!”….. aaah!! itulah mereka..!
Angin laut semilir sore itu…kapal membawa kami merapat lagi ke Trawangan.
Aku berselimut handuk sambil hitung-hitungan dengan Allah. Hitunglah jika satu tabung oksigen itu seharga 300ribu untuk aku hidup 1 jam di bawah air, sementara aku sehari dapat 24 jam gratis menghirup oksigen yang diberikan Allah, seharusnya aku membayar 7.200.000 kepada Allah hanya untuk oksigen saja sehari. Uang 7 juta yang aku sedekahkan bersama Pincuk waktu itu pun masih harus nombok 200 ribu. Setahun aku harus membayar 2,6 milyarr untuk oksigen. Belum lagi jika Allah menagih biaya sewa mata, mulut, telinga, kaki, tangan dan semua organ tubuhku… aku sudah tidak mampu menghitungnya…
Langit sore Gili Trawangan menguning, kilaunya memantulkan di sepanjang horizon… aku harus kembali tahluk, Gusti Allah itu Maha Buesarrr Sekali… dan hutangku kepada Beliau sudah tak sanggup kuhitung lagi….

————————-
Menjelang wafat, WS Rendra sempat meninggalkan beberapa puisi yang sangat menginspirasi, dia tulis sambil terbaring sakit, salah satunya adalah…
Renungan Indah
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya


Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?


Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku


Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku


Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.


sedekah tak berbalas

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….

…………….
Lain hari aku bermimpi, kalkulatorku jebol ketika aku hitung-hitungan dengan Gusti Allah… dan aku jadi maluuuu sekali mengharap sedekahku langsung berbalas esok hari…

*diketik di Jogja, dibaca di mana sadja…

dari: saptuari.blogspot.com

Kamis, 22 Maret 2012

Kunci Membantu seorang anak memiliki karakter mandiri




Anak-anak yang kurang mandiri dan manja, adalah anak-anak yang tidak mengembangkan otonominya.

 Anda perlu tahu bahwa pada satu tahap perkembangan anak, mereka mempunyai sebuah tahap dimana mereka ingin otonomi lebih besar. Ini dimulai ketika mereka berusia 2 atau 3 tahun. Dia ingin melakukan sesuatu saat itu. Tetapi biasanya kita orang tua terkadang terlalu melindungi anak. Ketika dia ingin memanjat kursi, kita larang dia, “jangan nanti jatuh”. Ketika dia memegang sesuatu tidak kita perbolehkan karena takut pecah dan lain sebagainya. Nah, akhirnya anak ini menjadi pasif dan hanya menunggu apa yang kita berikan atau apa yang diberikan oleh pengasuhnya. Ketika hal ini terjadi bertahun-tahun maka kita sudah mulai membentuk sebuah pola dalam diri anak kita. Untuk menjadi pasif dan tidak mandiri. Cobalah Anda memberikan sebuah latihan agar anak-anak mengerjakan sendiri.

Jika Anda mempunyai anak yang sudah menginjak kelas 1 SD, sebaiknya jangan bawakan tasnya ketika dia turun dari mobil. Anda mungkin berpendapat, “aduh.. saya kan harus berangkat kerja, kalau tunggu dia lama banget”. Itu tidak boleh di lakukan. Anda bisa berangkat lebih awal jika Anda tahu itu akan membuat Anda terlambat dan biarkan dia bawa tasnya sendiri masuk ke kelasnya.

Jangan hanya karena kita tidak mau repot akhirnya “udah sini tak bawain sudah masuk di kelas”. Itulah hal-hal kecil yang membuat anak Anda jadi kurang mandiri. Jika dia sudah bisa mengembalikan piring yang dia gunakan untuk makan ke tempat cucian, biar dia melakukannya. “Lho.. kalau begitu apa gunanya pembantu yang saya bayar”. Justru itulah masalahnya Anda tidak memberikan kesempatan anak Anda untuk mengembangkan dirinya. Semua itu perlu latihan. Anda tidak bisa membuat seorang anak mandiri tanpa sebuah proses. Sama seperti ketika dulu kita di besarkan oleh kondisi susah payah oleh orang tua kita. Saat itu orang tua kita mungkin tidak sengaja melakukan hal tersebut pada kita. Bahkan mungkin mereka merasa bersalah karena tidak bisa melayani kita sebaik mungkin. Tetapi justru itulah yang baik ternyata bagi kita, bagi perkembangan kita. Kita akhirnya menjadi seorang yang mandiri. Dan kemudian ketika kita sekarang sudah menjadi orang yang berhasil kita tidak melakukan itu pada anak, dengan alasan kasian.

Para pembaca yang budiman, inilah permasalahannya kita harus melatih anak kita untuk memiliki karakter mandiri. Kita harus memberikan kesempatan pada mereka seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dengan mengerjakan banyak hal kecil-kecil yang sangat-sangat berguna bagi perkembangan karakternya. Ketika seorang anak  mengembalikan piring makannya di tempatnya, mengangkat tasnya sendiri, mengembalikan sepatunya pada saat dia telah selesai pakai, atau melakukan kegiatan kecil-kecil maka si anak akan merasakan sebuah harga diri yang positif. Dia akan merasa bahwa dirinya sejajar dengan orang dewasa yang melakukan hal-hal tersebut. Ini akan membuat percaya dirinya melambung tinggi. Oleh karena itu berikanlah kesempatan ini pada anak-anak anda. Anda tidak akan pernah kecewa melihat mereka bertumbuh dan berkembang dengan semangat kemandirian ketika mereka  mulai menginjak masa-masa remaja.

Jadi pastikanlah Anda memberikan suatu kesempatan pada anak Anda untuk melakukan apa-apa yang dia telah mampu lakukan. Itulah kunci untuk membantu seorang anak memiliki karakter mandiri, percaya diri dan mampu mengerjakan segala sesuatu dengan tanggung jawab penuh.

Rabu, 21 Maret 2012

(Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral ?



Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia.
Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia.

Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)

Saat Tepat mencetak karakter sukses pada Anak (Buah Hati)



Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.

Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?

Banyak yang mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas berturut-turut, maka semakin sukseslah kita. Benarkah demikian? Eit tunggu dulu!

Saya sendiri kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh kecakapan membangung hubungan emosional  kita dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Tahukah anda bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses. Dan, saya beritahukan pada anda bahwa karakter tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Wow, Benarkah? Saya katakan Benar! Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses.

Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Nah, sekarang kita memahami mengapa membangun pendidikan karakter anak sejak usia dini itu penting. Usia dini adalah usia emas, maka manfaatkan usia emas itu sebaik-baiknya.

Kamis, 15 Maret 2012

Zahracoach: Uang saku yang menentukan


Pernahkah Anda melihat seseorang yang pekerjaannya kelihatan biasa-biasa
saja, tetapi memiliki apa saja yang dia inginkan? Sementara impian Anda
punya rumah mungil masih dalam khayalan. Begitu juga sebuah mobil yang
sudah lama Anda dambakan masih jauh dari jangkauan.

Bulan Juli sudah tiba. Tak terasa liburan sekolah sudah hampir selesai. Nah,
melewati masa liburan sekolah ini adalah masa yang terus terang paling indah
bagi anak-anak kita. Kenapa? Namanya juga libur, siapa sih yang tidak
senang? Tapi, mereka pasti tidak akan selamanya terus libur kan? Cepat atau
lambat mereka akan segera masuk lagi ke bangku sekolah. Masuk ke bangku
sekolah berarti juga kembali lagi belajar seperti biasanya.

Nah, salah satu hal yang selalu menjadi pikiran orang tua sekarang adalah
tentang berapa uang saku yang sebaiknya diberikan kepada anak-anaknya.
Kelihatannya sih ini memang hal yang sepele, tapi kalau Anda tidak cermat
dalam memberikan uang saku buat anak-anak Anda, waah....bisa-bisa bikin
Anda pusing dong nantinya.

Karena itu, berikut ini saya akan mencoba membahas beberapa hal yang
harus Anda perhatikan sebelum memberikan uang saku buat anak-anak
Anda. Mudah-mudahan bermanfaat ya.

1. Sesuaikan jumlah pemberian uang saku dengan penghasilan Anda
Sangat penting bagi Anda untuk memperhatikan seberapa besar
penghasilan Anda sebelum memutuskan berapa besarnya uang saku
yang sebaiknya diberikan untuk anak Anda. Ingat lho, pemberian uang
saku kepada anak adalah salah satu pos pengeluaran rutin dalam
pengeluaran keluarga, sehingga Anda harus merencanakannya dengan
cermat. 

Apalagi kadang-kadang orang tua juga ingin memanjakan
anaknya dengan memberikan uang saku yang cukup besar, karena hal
itu bisa memberikan sebuah kebahagiaan tersendiri. Tapi usahakan agar
hal seperti itu jangan sampai dipaksakan, karena kebutuhan rumah
tangga Anda kan tidak melulu untuk uang saku anak. Jangan khawatir,
ada cara lain kok untuk tetap bisa menunjukkan rasa sayang pada anak,
yaitu lewat pemberian hadiah misalnya. Pemberian hadiah kan tidak
rutin sifatnya dibandingkan dengan pemberian uang saku. Dengan
demikian, keuangan keluarga tetap bisa Anda kendalikan. Bukan
begitu?

2. Tidak perlu berlebih
Berapa sih sebaiknya jumlah uang saku yang diberikan? Itu mungkin
pertanyaan yang sering muncul di kepala Anda. Tentu saja kalau kita
bicara tentang jumlah besaran uang saku, angkanya bisa sangat
bervariasi. Tapi hal penting yang perlu Anda ingat adalah bahwa jangan
sampai Anda memberikan uang saku yang berlebih. Yang paling bijak
adalah memberikan uang saku yang cukup dengan kebutuhannya.
Ingat, kalau anak diberikan uang saku yang berlebih, umumnya mereka
akan cenderung menghabiskan uangnya karena merasa bahwa mereka
tidak memiliki masalah dengan jumlah uang yang mereka punya. Beda
kan kalau jumlah yang mereka dapat tidak besar-besar amat?
Repotnya, kalau sudah begini, ada kemungkinan bahwa sifat itu akan
terus dibawanya hingga ia dewasa. Nah, lho...

Terus sekarang bagaimana cara mengetahuinya kebutuhannya supaya
Anda tidak memberikan jumlah uang saku yang berlebih? Gampang
kok, tanya saja langsung ke anak Anda. Ini biasanya akan sekaligus
mengajarkan kepada si anak bahwa ia harus membelanjakan uangnya
sesuai dengan kebutuhan yang memang ada, bukan semata-mata
karena keinginannya.

3. Uang Saku bukan berarti untuk dibelanjakan semua
Sebagian besar anak umumnya berpikir bahwa uang saku yang mereka
dapatkan akan digunakan semua untuk dibelanjakan. Nah, cobalah
berikan pengertian kepada anak bahwa uang saku yang mereka
dapatkan sebaiknya tidak semata-mata dibelanjakan. Anda bisa
mengajarkan bahwa penting juga untuk menabung dan memberikan
sumbangan dari uang sakunya. Selalu ajarkan padanya untuk
menabung jika memang ada sisa dari uang jajannya. Beri kepercayaan
padanya untuk mengelola tabungannya sendiri. Anak bisa memasukkan
uangnya di kotak tabungan (celengan) dan kemudian celengan tersebut
simpan. Jadi Anda dapat mengetahui bagaimana kebiasaannya
menabung. Selain menabung, ajarkan juga kepadanya untuk
menyumbang. Hal tersebut akan menumbuhkan rasa kepedulian dan
kesadaran sosial pada diri si anak. Katakan padanya bahwa sekecil
apapun sumbangan yang ia berikan akan sangat besar manfaatnya bagi
orang lain yang mendapatkan sumbangan tersebut.

4. Ajarkan Kemandirian dalam mengelola uang sakunya
Kemandirian dalam mengelola uang memang tidak datang begitu saja.
Hal itu memang harus dipelajari. Semakin dini belajar, maka akan
semakin baik bagi diri si anak. Nah, kemandirian dalam mengelola uang
dapat dimulai dari kemandirian dalam mengelola uang saku yang ia
dapatkan. Cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan memberikan
uang saku secara mingguan atau bulanan.

Dengan cara tersebut, si anak akan belajar untuk mau tidak mau mengelola
uang sakunya, karena toh uang saku tersebut dia dapatkan cuma sekali, yaitu
pada setiap awal minggu atau awal bulan, untuk kemudian akan dikelolanya
untuk seminggu atau sebulan ke depan. Pastikan juga bahwa Anda tidak akan
memberikan toleransi uang saku tambahan jika uang saku mingguan atau
bulanannya sudah habis. Kecuali, memang karena alasan-alasan yang
mendesak.

Dengan demikian, paling tidak kalau ia sudah dewasa kelak, ia sudah terbiasa
dan tahu bagaimana cara mengelola gaji, yang biasanya juga akan ia
dapatkan sebulan sekali. Nah, bagaimana bapak ibu? Mudah-mudahan
penjelasan di atas tadi bermanfaat ya untuk Anda.

Penulis: Safir Senduk

Senin, 19 Desember 2011

MINDSET SUKSES DENGAN MANAJEMEN QALBU

Mindset Sukses dengan Manajemen Qolbu




Manajemen Qolbu Apa itu MQ? Sebenarnya tidak ada perbedaan antara MQ dengan metode dakwah Islam lainnya. di dalamnya pun tidak ada yang baru, semuanya merupakan penjabaran ajaran Islam. Hanya pembahasannya lebih diperdalam, dibeberkan dengan cara yang aktual, dengan inovasi dan kreativitas dakwah yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.

Inti pembelajarannya sendiri ada pada qolbu. Di dalam tubuh ini ada akal, jasad, dan qolbu. Akal membuat orang bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang ia inginkan. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh akal. Sebagai contoh, apabila akal menginginkan tubuh mampu berkelahi, maka tubuh akan berlatih agar menjadi kuat.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang cerdas, orang yang begitu gagah perkasa, tapi tidak menjadi mulia, bahkan sebagian diantaranya membuat kehinaan karena berbuat jahat. Mengapa? Sebab ada satu yang membimbing akal dan tubuh yang belum diefektifkan, itulah qolbu.

Kita ambil contoh lain, sebuah mikrofon bisa menjadi alat provokasi kejahatan, bisa juga jadi alat dakwah dan menyampaikan ilmu, sebuah mikrofon bisa juga menjadi alat bantu berbicara sehingga menjadi fasih, itulah fungsi mikrofon. Artinya, yang menentukan isi dari bahasa yang keluar darinya adalah qolbu.

Dalam hal ini Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging yang jika ia baik maka baik pula yang lainnya, sebaliknya yang apabila ia jelek buruk pula lainnya.


Butir-butir Tausiah Aa Gym: Zainal Abidin Mustofa

Rabu, 14 Desember 2011

Ajari Anak usia dini dengan cinta lingkungan (Zahracoach)

Islam sebagai agama yang sempurna, dia memperhatikan banyak aspek kehidupan, bahkan yang terkecil sekalipun. Aspek kehidupanpun tidak hanya berkaitan dengan manusia semata, namun juga dengan lingkungan/alam sekitar.

ALLOH SWT sudah menegaskan bahwa KEBANYAKAN manusia akan banyak berbuat kerusakan di muka bumi ini, dengan berbagai macam polah tingkahnya. Kita bisa lihat pada ayat-ayat berikut ini:

AL BAQARAH(2):11,“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

AL BAQARAH(2):30,“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

AL BAQARAH(2):205,“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”

AL MAA-IDAH(5):32,“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

AL A’RAAF(7):56,“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

HUD(11):116,“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”

Ayat-ayat di atas secara tidak langsung memperlihatkan bahwa secara perlahan tapi pasti, manusia akan berbuat kerusakan (kecil dan besar) terhadap bumi, yang akan berakibat kepada kerusakan dan ketidakseimbangan alam. Di jaman modern ini, ketidakseimbangan alam ini kian terasa dengan adanya efek pemanasan total. Salju dan es mencair, mengakibatkan permukaan air laut meluap. Belum lagi ditambah dengan penebangan hutan yang semena-mena, membuat paru-paru dunia kian berkurang dan tingkat pencemaran meningkat dengan tajam.

Kondisi ini diperparah dengan pengeboran dan penggalian serta eksplorasi bumi yang kian tidak memperhitungkan faktor ‘ketangguhan’ bumi. Emas, minyak, dan berbagai barang tambang, semua dikeruk sebesar-besarnya.
Laut juga tidak luput dari bahaya kerusakan yang diakibatkan oleh manusia.
Dan sekali lagi, Islam sudah memperingatkan mengenai hal ini. Jika ayat-ayat di atas dianggap masih belum rinci berbicara mengenai kerusakan alam, maka ayat berikut akan menggambarkan dan menjelaskan secara gamblang. Perhatikan ayat berikut:

AR RUUM(30):41,“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Sayangnya, alam lingkungan seakan luput dari kaum muslim, terutama abad ini. Tidak ada fikih atau aturan agama ataupun fatwa yg secara resmi dikeluarkan oleh para ulama terkait dengan kondisi alam lingkungan ini. Padahal Islam (melalui Al Qur’an) sudah memberitahu dan mengingatkan hal ini berabad lampau.
Dengan kata lain, para ulama mesti memikirkan fiqh al bi’ah (fikih lingkungan) sebagai upaya memberi jawaban (dari sisi Islam) terhadap krisis ekologi yang telah berlangsung secara sistematis akibat keserakahan manusia dan kecerobohan penggunaan teknologi.

Bagi kita, muslim ‘kebanyakan’, tidak ada yg tidak bisa kita kerjakan berkaitan dengan kelestarian alam. Setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal berikut:
1. Tidak membuang sampah sembarangan
2. Menanam pohon di depan halaman (jika ada) untuk mengurangi tingkat polusi
3. Tidak boros dalam menggunakan energi (hemat energi). Al Isra(27):17,“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
4. Menggunakan air seperlunya, sekalipun untuk berwudlu.

http://zahracoach.blogspot.com
Sudah siapkah kita melestarikan alam? Ayo mulai dari sekarang!

Indahnya Kasih Sayang pada Anak|Keluarga|sesama manusia

Indahnya Kasih Sayang
Mahasuci Allah, zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan
memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang akan terlepas dari diri

seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.
Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercabut, maka

itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang Allah Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di qolbunya.

Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati

nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhatikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela

membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Allah SWT mempunyai seratus rahmat
(kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin,
manusia, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas kasihan
dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi
anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai
kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (HR. Muslim)


Dari hadits ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya.

Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang bergejolak keinginannya

untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya

tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas

mengikuti alur sungai menuju laut, mata air sama sekali tidak pernah

mengharapkan ia kembali.

Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita

menyayanginya dengan menyayangi kita dulu.

Jangan meremehkan makhluk ciptaan Allah, sebab tidaklah Allah menciptakan

makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang Allah ciptakan syarat dengan ilmu,

hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari Allah Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di qolbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.


Ingatlah bahwa hidupnya hati hanya bisa dibuktikan dengan apa yang bisa kita

lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya

mamfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Insya Allah bagi yang telah tumbuh kasih sayang di qolbunya, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menahkahkannya di jalan Allah, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula mengajarkannya kepada orang lain.

Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan. Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, Insya Allah hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan berhati-hatilah bagi orang yang bergaulnya  hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Masya Allah.

sumber: Aa Gym

ANAK KITA POTENSI DIRINYA LUAR BIASA (ZAHRACOACH)


Aktualisasi Potensi Diri

Pada kesempatan sebelumnya kita telah bahas tahapan mengenali diri,
memposisikan diri, dan mendobrak diri. Kini kita bahas tahap terakhir penerapan  strategi Sun Tzu untuk personal development, yaitu aktualisasi diri.
Tahap aktualisasi diri merupakan proses realisasi potensi diri setelah kita mampu melakukan tindakan-tindakan cepat, berani ambil risiko, dan mampu mengambil pelajaran atas keberhasilan dan kegagalan kita. Dalam proses perwujudan inilah kita dituntut untuk melakukan segala sesuatunya secara profesional, efektif, dan efisien.  

Sebab, ini sangat berkaitan dengan peluang atau kesempatan yang kita peroleh.
Ingat, peluang dan kesempatan tidak datang setiap kali kita inginkan dan sesering  yang kita harapkan. Kesempatan memiliki segi kemanfaatan yang tinggi di hadapan  orang yang mampu memposisikan diri dengan tepat, bertindak cepat, mau belajar, serta siap mengambil risiko. Kesempatan tidak memiliki nilai apapun di hadapan orang yang tidak siap menerimanya.
Tahap aktualisasi diri menuntut kemampuan kita untuk menjalin koneksi atau relasi yang bernilai lebih. Ada kalanya potensi, kemampuan, ketrampilan, dan nilai lebih  kita, macet gara-gara tidak menemukan saluran aktualisasi yang sepantasnya.

Relasi dan koneksi kadang bisa berfungsi seperti jalan dan jembatan menuju ke
sasaran yang kita inginkan. Di sinilah arti penting koneksi atau relasi dengan orang lain, terutama sekali relasi-relasi yang berkualitas. Relasi atau koneksi yang  berkualitas merupakan daya ungkit yang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak  keberhasilan kita.

Berikutnya, pengembangan diri tidak bisa terlepas dari kekuatan ketahanan mental. 

Pada artikel terdahulu kita sudah membahas betapa kesuksesan yang tidak disertai  dengan ketahanan mental menjadi kesuksesan yang rapuh fondasinya. Keberhasilan yang mengabaikan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan adalah keberhasilan yang  kering, tidak bermakna, tidak memuaskan sepenuhnya, dan akhirnya menjadi  sesuatu yang destruktif. Sebab itulah, ketahanan mental harus kita tempa dan kita tanamkan semenjak kita memulai setiap perjuangan. Caranya adalah dengan  memelihara spirit sebagai manusia pembelajar yang sejati.

Cara lain yang penting untuk menempa ketahanan mental kita adalah dengan selalu  berdoa, selalu mengucap syukur, dan bermeditasi. Kesuksesan harus dicapai, diwujudkan, dan diterima dengan doa, rasa syukur, dan pendalaman batin melalui  meditasi. Ini merupakan penyeimbang antara tarikan-tarikan energi fisik-material  dengan energi mental-spiritual. Ketiganya menjadi sebuah mekanisme pembaharuan  diri terus-menerus menuju kepada kedalaman atau kesejatian diri kita.

Sumber: Aktualisasi Potensi Diri oleh Andrie Wongso

KELUARGA | ANAK SHALEH KUNCI KESUKSESAN


Keluarga Kunci Kesuksesan 

Bismillaahirrahmaanirrahiim 
Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun karir bertahun-tahun
akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada  yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, ini tertipu!  Penyebab kegagalan seseorang diantaranya : 
  • Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadaiuntuk mengoreksi dirinya.
  • Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan. 
  • Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.

Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi  basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah. Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan:

  • Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola
perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa
aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan
diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah
neraka.
Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar
rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah
berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi
ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari
rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.
Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang
paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. 
Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain. Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercorengkarena keluarga yang mengoreksinya.
Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak  kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik.

Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang
lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya  tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.

sumber: Aa gym

Selasa, 13 Desember 2011

Dahsyatnya Sedekah Dengan apa yang ADA

Dahsyatnya Sedekah 
Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut : Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"
Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa
menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). 
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan- Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat
apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di
samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma
menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang,
atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang
teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu
amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang
dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas
adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan
kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.
Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut
pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah
(keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat
dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya.

Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah
dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita
akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.
Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya. 

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang
tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261). 

Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan
menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku
hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan
keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."
"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.
Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu naim telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah.

Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih
menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.
Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat.
Masya Allah!

Senyuman Anakku Hiburan yang paling mahal di Dunia (Zahracoach)

Lima (5) S

Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang
dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan
dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian khas Islam sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, Shaf, shaf, rapikan shafnya!, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.


Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa Good Morning! atau sapa dengan tradisinya.
Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.

Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk
mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa,
sopan, dan santun.

Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih
kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus.

  • Senyum. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?

  • S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri.

Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan
salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?

  • S ketiga adalah sapa. Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan.

Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita
bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?
  • S keempat, sopan. Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk,ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya,  kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan.
Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika
kesopanan atau tidak.

  •  S kelima, santun. Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri.

Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh
mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia?

Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita
untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?
Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil.
Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.

Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S
ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan
mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW,
Innama buitsu liutammima makarimal akhlak,Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.*